Monday, 12 March 2012

Situs Kabupaten Karawang


Terimakasih atas kunjungan anda

Monumen Perjuangan Rawa Gede


Peninggalan Arkeologi

Kabupaten Karawang merupakan wilayah pesisir pantai utara Jawa bagian barat. Secara topografis sebagian besar wilayah ini termasuk dalam dataran allluvial dengan ketinggian 0,6 m diatas permukaan laut dan kemiringan 0,2 %. Dibeberapa tempat di wilayah Karawang ditemukan situs-situs arkeologi yang telah berhasil diteliti, sebagai berikut :

01. Situs Kendaljaya (kobak kendal)
Sitius ini terdapat diwilayah Dukuh Kobak Kendal, Desa Kendaljaya Kecamatan Pedes berjarak 3 Km dari garis pantai utara Jawa. Tahun 1960-an dan tahun 2007, terjadi perburuan harta karun di situs Kendaljaya yang dilakukan oleh masyarakat, baik masyarakat setempat maupun masyarakat di luar Karawang. Sejumlah besar artefak yang berfungsi sebagai bekal kubur yang menyertai rangka-rangka manusia yang dikuburkan maupun bukan hilang lenyap. Peninggalan yang berhasil diselamatkan diantarany, gerabah dengan pola hias jala, lingkaran memusat, garis-garis sejajar dan tumpal yang dikerjakan dengan teknis tekan atau gores. Bekal kubur yang terbuat dari logam adalah fragmen senjata misalnya mata tombak, golok dan pisau, hasil temuan lainnya berupa peralatan batu, perhiasan, dan keramik.


Gerabah - situs Kendaljaya

02. Situs Pejaten
Situs Pejaten terletak di Rawa Pulo, Dusun Pejaten, Desa Pejaten Kecamatan Cibuaya. Situs ini berada di areal pesawahan berupa hamparan pecahan bata seluas 20 x 20 m pada kedalaman 30 40 cm dari permukaan tanah, hamparan bata ini belum diteliti lebih lanjut.

03. Situs Dongkal
Situs ini berada di Dusun Dongkal, Desa Dongkal Kecamatan Pedes, ditemukan gerabah berbentuk periuk dan cawan. Hasil penemuan ini sekarang berada di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Jakarta.

04. Situs Babakan Pedes
Situs ini berada di Dusun Babakan Pedes Desa Pusakajaya Utara Kecamatan Cilebar. Sekitar tahun 1970-an tempat ini menjadi perburuan harta karun sehingga tinggalan budaya di situs ini musnah. Dari beberapa yang berhasil diselamatkan berupa gerabah.

Kerangka dan bekal kubur diseluruh tempat perburuan harta karun

05. Situs Cikuntul, Pulomas, Kosambi dan Talun
Situs Cikuntul 1 berada di Kampung Rawa Kondang, Desa Cikuntul Kecamatan Tempuran. Situs ini merupakn komplek makam kuno, pada tahun 1960-an terjadi perburuan harta karun yang berupa bekal kubur yang terbuat dari emas, kuningan dan tembaga berbentuk anting, kalung, cingcin, penutup mata, penutup telinga, penutup mulut, dan pnutup kemaluan. Saat ini di permukaan lahan ditemukan sisa-sisa gerabah yang sudah sangat fragmentaris.
Situs Cikuntul 2 lokasinya bersebrangan dengan Cikuntul 1 hanya terhalang irigasi. Pada situs ini ditemukan sisa bekal kubur berupa fragmen gerabah, artefak emas, dan manik-manik yang terbuat dari tulang berbentuk cincin, pipa dan bulat dampak berwarna putih opaque. Situs lain seperti Puloma, Kosambi dan Talun juga merupakan situs tempat perburan harta karun.

06. Situs Pasir Putih
Situs ini terletak di pasir putih, muara sungai Pasir Putih Kecamatan Cilamaya Kulon. Di Kawasan ini ditemukan sebaran fragmen gerabah dan fragmen keramik asing. Dari atribut yang menempel dipermukaan keramik tersebut berasal dari beberapa negara diantaranya Swatow (China) abad ke 16-17 m. Selain itu ditemukan keramik Eropa sekitar abad 19-20 M mengacu pada cap yang berada pada bagian bawah piring berbentuk gambar Spink dangan tulisan Mastrich.

07. Situs Pilang
Situs ini berada di Desa Kertajaya, Kecamatan Jayakerta, karena daerah ini pernah menjadi tempat perburuan harta karun, beberapa artefak yang berhasil diselamatkan berupa kendi tanpa ceret dan pada leher kendi terdapat payungan yang cukup lebar.


Gerabah - situs Pilang

08. Situs Cikande
Berada di Kampung Cikande, Desa Telagajaya Kecamatan Pakisjaya. Ditemukan keramik berupa mangkuk polos terbuat dari bahan batuan dan bagian kaki tidak berglasir. Mangkuk tersebut diperkirakan berasal dari Fujian China Selatan masa Dinasti Song (960 - 1279 M, selain keramik juga ditemukan gerabah.

09. Situs Kuta Tandingan
Merupakan kawasan perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten yang memanjang dari Karawang hingga Purwakarta. Kuta Tandingan berjumla tujuh, yaitu : Kuta Kulambu, Kuta Pohaci, Kuta Masigit, Kuta Meriam, Kuta Jati, Kuta Barang dan Kuta Bombong. Di Kuta Kulambu dan Kuta Pohaci tempat diadakan tirual pertanian saat menanam hingga panen. Tinggalan arkeologi di Kuta Kulambu berupa serakan batu-batu besar yang tidak beraturan pada sebuah bukit. Diantara batu-batu tersebut ada yang dikeramatkan merupakan batu besar bergores yang ditutupi kelambu. Sementara Kuta Jati yang terletak di daerah Kampung Kuta Jati Desa Mulyasejati Kecamatan Ciampel dipercaya merupakan patilasan Eyang Haji Sukma Sejati Jaya Sampurna. Menurut sumber tradisi ia dipercayai sebagai pengikut Prabu Siliwangi yang diperintahkan menjaga masyarakat sekitar itu. Tidak jauh dari tempat itu terdapat Gua Sanghyang, berupa gua alam pada sebuah tebing bukit, gua ini dipercaya tempat bertapa para tokoh Sunda pada masa lalu. selain itu terdapat pula sumur tujuh, batu ampar dan sipatahunan.
Mulut Goa Sanghyang


10. Situs Cibuaya

Arca Wisnu Cibuaya 

Berada di Kampung Cibuaya, krajan dan Pejaten, Desa Cibuaya Kecamatan Cibuaya. Pada tahun- tahun sebelumnya ditemukan arca Wisnu yang kemudian diberi nama Arca Wisnu Cibuaya. Candi Cibuaya I terletak diareal pesawahan sebelah barat daya candi Cibuaya II kondisinya sudah hancur merupakan reruntuhan bata. Candi Cibuaya II yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Lemah Duwur Wadon, pada mulanya berupa gundukan tanah setinggi 2 meter. Ditemukan sisa bangunan berupa susunan bata berbentuk bujur sangkar berukuran 3,5 x 3,5 m.
Candi Cibuaya III (Lemah Duwur Lanang) berupa susunan bata berukuran 9 x 9,6 m dengann tinggi 2 meter. Pada bagian atas bangunan terdapat lingga berukurang tinggi 90 cm dengan diameter 20 cm. Candi Cibuaya IV keadaan candi ini sudah hancur karena terletak diareal persawahan bentuk bangunannya sudah tidak dapat dikenali lagi.
Candi Cibuaya V ditemukan dua buah, tahun 1992 ditemukan bangunan bata berdenah bujursangkar berukuran 4,35 x 4,45 m. Tahun 1994 ditemukan bangunan bata berdenah empat persegi panjang berukuran 4,40 x 4,80 m. Tinggi bangunan yang tersisa 0,9 m membujur ke arah barat - timur.

Candi Lanang-situs Cibuaya 


11. Situs Batujaya
      A. Situs Candi Jiwa
Situs ini terletak di Desa Segaran Kecamatan Batujaya. Struktur bangunan bata ini      berdenah  bujur sangkar berukuran 19 x 19 m dengan tinggi 4,7 m dan berorientasi ke arah barat laut-. tenggara. Pada bagian kakinya terdapat profil bangunan berbentuk pelipit rata ( patta), (uttara) dan pelipit setengah lingkaran (kumuda). Susunan bata itu berbentuk melingkar dengan  diameter 6 m sehingga muncul dugaan bahwa susunan bata itu merupakan bagian dari stupa. Maka bangunan ini merupakan candi yang bersifat Budhis, dibagian permukaan atas  pada ke empat sisinya menampakkan permukaan yang bergelombang.

       B. Situs Unur Lempeng
Saat ini lahan situs digarap menjadi lahan pertanian sehingga situs sudah teraduk. Pada   lahan unur Lempeng terdapat sebuah sumur kuno dan dua lempengan batu besar yang bentuknya hampir segi lima, salah satu diantaranya berukuran 2 x 2 m.

       C. Situs Unur Blandongan
Unur Blandongan merupakan bangunan terbesar dibandingkan dengan situs lain dikawasan Batujaya. Pengupasan yang dilakukan menampakkan reruntuhan candi dengan bagian kaki berdenah bujur sangkar berukuran 25 x 25 m. Temuan di candi tersebut berupa fragmen meterai (votif tablet) terakota bergambar relief Budha, dan pecahan votive tablet berbentuk empat persegi panjang terbuat dari tanah liar bakar. Relief Budha terdiri dari masing-masing tiga tokoh Budha. Meterai ini berisi cerita Sravasti yaitu mitologi tertu tentang sang Budha. 
       
      D. Situs Unur Serut
Situs ini terdiri dari tiga candi, ketiga candi itu mempunyai keunikan dari candi yang lainnya.Yaitu berdenah empat persegi beukuran 6,60 x 6,20 m. Candi ini dilepa dan dihiasi dengan ornamen terbuat dari bahan stuko, berupa kepala manusia datau tokoh kedewataan dan kepala binatang.

Candi Jiwa-situs Batujaya
Candi Blandongan-situs Batujaya



13. Komplek Makam Bupati Karawang
Komplek pemakaman ini hasil pemindahan dari tempat aslinya, komplek pemakaman ini terletak di Kampung Ciparage, Desa Manggungjaya Kecamatan Cilamaya Kulon. Masing-masing makam bupati berada dalam ruangan bangunan baru berukuran 4 x 4 m, berlantai keramik dan beratap genteng. Makam-makam tersebut adalah :

    1. Makam Bupati Karawang 1 (1633-1677) Kyai Panembahan Singaperbangsa bergelar Raden
         Adipati Kertabumi IV (Galuh) disebut juga Dalem Kalidaon.
     2. Makam Bupati Karawang II (1677-1721), Raden Anom Wirasuta (Panatayuda I).
     3. Makam Bupati Karawang III (1721-1731), Raden Jaya Negara (Panatayuda II)
     4. Makam Bupati Karawang IV (1731-1752), Raden Martanegara (Panatayuda III).
     5. Makam Bupati Karawang V (1752-1756), Raden Mochamad Soleh (Panatayuda IV).

Komplek Makam Bupati Karawang-situs Manggungjaya


Bupati Karawang


1.      RADEN ADIPATI SINGAPERBANGSA (1633-1677)
Raden Adipati Singaperbangsa putra Wiraperbangsa dari Galuh (Wilayah Kerjaaan Sumedanglarang) Bergelar Adipati Kertabumi IV. Pada masa pemerintahan Raden Adipati Singaperbangsa, pusat pemerintahan Kabupaten Karawang berada di Bunut Kertayasa. Sekarang termasuk wilayah Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat. Dalam melaksanakan tugasnya Raden Adipati Singaperbangsa didampingi oleh Aria Wirasaba, yang pada saat itu oleh kompeni disebut sebagai “ HET TWEEDE REGENT “, sedangkan Raden Adipati Singaperbangsa sebagai “HOOFD REGENT”.Raden Adipati Singaperbangsa, wafat pada tahun 1677, dimakamkan di Manggung Ciparage, Desa Manggung Jaya Kecamatan Cilamaya Kulon. Raden Adipati Singaperbangsa, dikenal pula dengan sebuatn Kiai Panembahan Singaperbangsa, atau Dalem Kalidaon atau disebut juga Eyang Manggung.

2.      RADEN ANOM WIRASUTA (1677-1721)
Raden Anom Wirasuta Putra raden Adipati Singaperbangsa bergelar Adipati Panatayudha I.Beliau dilantik menjadi Bupati di Citaman Pangkalan. Beliau setelah wafat, dimakamkam di Bojongmanggu Pangkalan, Karena beliau dikenal pula dengan sebutan Panembahan Manggu.

3.     RADEN JAYANEGARA (1721-1731)
Raden Jayanegara adalah putra Anom Wirasuta, bergelar Adipati Panatayudha II. Setela wafat beliau dimakamkan di Waru Tengah Pangkalan. Karena itu beliau dikenal juga sebagai Panembahan Waru Tengah

4.      RADEN SINGANAGARA (1731-1752)
Raden Singanagara, putra Jayanegara, bergelar Raden Aria Panatyudha III. Raden Singanagara dikenal juga dengan nama Raden Martanegara. Setalh wafat dimakamkan di Waru Hilir, Pangkalan. Karena itu beliau dikenal dengan Panembahan Waru Hilir. Pada tanggal 28 November 1994, makam Raden Anom Wirasuta (Bupati Karawang ke-2), makam Raden Jayanegara (Bupati Karawang ke-3) dan Raden Singanagara (Bupati Karawang ke-4) dipindahkan ke Areal dekat makam Raden Adipati Singaperbangsa di Manggung Ciparage, Desa Manggungjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon.

5.      RADEN MUHAMMAD SALEH (1752-1786)
Raden Muhammad Saleh, putra Raden Singanagara, bergelar Raden adipati Panatayudha IV. Raden Muhammad Saleh dikenal pula dengan nama Raden Muhammad Zaenal Abidin atau Dalem Balon. Setelah wafat beliau dimakamkan di Serambi Mesjid Agung Karawang. Karena itu Raden Muhammad Saleh dikenal juga dengan sebutan Dalem Serambi. Pada tanggal 5 Januari 1994 Makam Raden Muhammad Saleh dipindahkan juga ke areal Manggung dekat dengan makam Raden Adipati Singaperbangsa, di Manggung Ciparage, Desa Manggungjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon

Mesjid Agung Karawang

6.       RADEN SINGASARI (1786-1809)
Raden Singasari, putra mantu Raden Muhammad Saleh, bergelar Raden adipati Aria Singasari atau Pantayudha IV. Pada tahun 1809 Raden Aria Singasari dialihtugaskan menjabat Bupati Brebes Jawa Tengah. Raden Adipati Aria Singasari wafat pada tahun 1836 dan dimakamkan di Duro Kebon agung Jati Barang, Brebes Jawa Tengah. Karena beliau dikenal juga dengan sebutan Dalem Duro.

7.       RADEN ARIA SASTRADIPURA (1809-1811)
Raden Aria Sastradipura, putra Raden Muhammad Saleh, beliau ditugaskan sebagai Cutak (Demang) setingkat Patih dengan tugas pekerjaan Bupati.

8.       RADEN ADIPATI SURYALAGA (1811-1813).
Raden Adipati Suryalaga, pada waktu kecil bernama Raden Ema, beliau putra Sulung Raden Adipati Suryalaga, Bupati Sumedang (1765-1783) Raden Suryalaga, adalah saudara misan dan menantu Pangeran Kornel, yaitu Suami dan Putri Pangeran Kornel yang bernama Nyi Raden Ageng, Raden Adipati Suryalaga wafat di Talun Sumedang. Karena itu beliau dikenal pula dengan sebutan Dalem Talun.

9.       RADEN ARIA SASTRADIPURA (1831-1820)
Raden Aria Sastradipura, putra Muhammad Saleh ( Bupati Karawang ke-5). Beliau untuk kedua kalinya ditugaskan sebagai Cutak di Karawang, setelah yang pertama pada Periode tahun 1809-1811. Pada tahun 1813 Kabupaten Karawang dihapuskan, tetapi pada tahun 1821 dibentuk kembali dengan pusat pemerintahan berkedudukan di Wanayasa, Purwakarta.

PARA BUPATI KARAWANG YANG BERKEDUDUKAN DI PURWAKARTA.

10.     RADEN ADIPATI SURYANATA (1821-1828)
Raden Adipati Suryanata, putra RAden Adipati Wiranata Dalem Sepuh Bogor Keturunan Cikundul. Raden Adipati Suryanata Menikah dengan Nyi Salamah, putrid Aria Sastradipura, (Bupati Karawang ke-9). Pada masa Pemerintahan Raden Adipati Suryanata, kantor dipindahkan dari Karawang ke Wanayasa (Purwakarta). Raden Adipati Suryanata wafat pada tahun 182 dimakamkan di Nusa Situ Wanayasa, Purwakarta.

11.     R. ADIPATI SURYAWINATA (1828-1849)
Raden Suryawinata alias Raden Haji Muhammad Sirod, putra Raden Adipati Wiranata Dalem Sepuh Bogor, (adik Raden Adipati Suryanata Bupati Karawang yang memerintah tahun 1821-1828). Pada awal masa pemerintahan beliau, pusat pemerintahan masih di Wanayasa, selama 2 tahun, dan pada tahun 1830, pusat Pemerintahan dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih serta menamakan daerah tersebut Purwakarta. Purwa artinya permulaan dan Karta, sama dengan Ramai atau hidup, dengan demikian nama Purwakarta baru dikenal pada masa pemerintahan Raden Adipati Suryawinata. Pada tahun 1849 Raden Adipati Suryawinata dialihtugaskan menjadi Bupati Bogor hingga wafat tahun 1872. Raden Adipati Suryawinata Dikenal pula dengan sebutan Dalem Solawat atau Dalem Santri.

12.     RADEN MUHAMMAD ENOH (1849-1854)
Raden Muhammad Enoh, putar Dalem Aria Wiratanudatar VI, bergelar Raden Sastranagara. Raden Muhammad Enoh, wafat pada tahun 1854 dan dimakamkan di Masjid Agung Purwakarta.


13.     RADEN ADIPATI SUMADIPURA (1854-1863).
Raden Adipati Sumadipura, putra Raden Adipati Sastradipura (Bupati Karawang Ke-8) yang dilahirkan pada tahun 1814 dengan sebutan lainnya Uyang Ajian, atau Dalem Sepuh. Raden Adipati Sumadipura, bergelar Raden Tumenggung Aria Sastradiningrat I. Beliau yang membangun Pendopo Kabupaten, Mesjid Agung dan Situ Buleud di Purwakarta. Raden Adipati Sumadipura, wafat pada tahun 1863 di Purwakarta dan dimakamkan di Masjid Agung Purwakarta.

14.     RADEN ADIKUSUMNAH (1863-1886)
Raden Adikusumah alias Apun Hasan, putra Uyang Ajian yang bergelar Raden Adipati Sastradiningrat II. Beliau dilahirkan pada tahun 1837, wafat pada tahun 1886 dan, dimakamkan di Masjid Agung Purwakarta.

15.     RADEN SURYAKUSUMAH ( 1886-1911)
Raden Suryakusumah alias Apun Harun, putra Raden Adikusumah, bergelar Raden Sastradiningrat III, Raden Suryakusunah, wafat pada tahun 1935 dan dimakamkan di Masjid Agung Purwakarta.

16.     RADEN TUMENGGUNG ARIA GANDANAGARA (1911-1925)
Raden Tumenggung Aria Gandanagara, Adik Raden Suryakusumah, bergelar Raden Adipati Sastradiningrat IV, Beliau juga dikenal dengan sebutan Dalem Aria. Raden Tumenggung Aria Gandanagara wafat pada tahun 1940 dimakamkan di Masjid Agung Purwakarta.

17.     RADEN ADIPATI SURYAMIHARJA (1925-1942)
Raden Suryamiharja, putra Raden Rangga Haji Muhammad Syafe’I asal Garut, bergelar Raden Adipati Songsong Kuning, Raden Adipati Aria Suryamiharja, merupakan Bupati Karawang terakhir masa pendudukan Jepang.

18.     RADEN PANDUWINATA (1942-1945)
Raden Panduwinata dikenal pula dengan sebutan Raden Kanjeng Pandu Suryadiningrat. Merupakan Bupati pada masa pendudukan Jepang.

PARA BUPATI KARAWANG YANG BERKEDUDUKAN DI SUBANG

19.     RADEN JUARSA (1945-1948)
Berhubung sedang bergejolaknya Revolusi, maka pada masa Pemerintahan Raden Juarsa, Pusat Pemerintahan Kabupaten Karawang dipindahkan dari Purwakarta ke Subang.

20      RADEN ATENG SURAPRAJA DAN, R. MARTA (1948-1949)
Pada tahun 1948-1949 di Kabupaten Karawang ditunjuk dua orang Bupati oleh dua Pemerintahan yang berbeda, yaitu,
  1. Radeng Ateng Surya Praja, adalah Bupati Karawang yang ditunjuk oleh Negara Pasundan (Bentuk Recomban).
  2. R. Marta adalah Bupati Karawang jaman Gerilya yang ditunjuk oleh Pimpinan Badan Pemerintahan Sipil Jawa Barat Bulan Oktober 1948.
PARA BUPATI KARAWANG YANG BERKEDUDUKAN KEMBALI DI KARAWANG

21.     R.M. HASAN SURYA SACA KUSUMAH (1949-1950)
R.M. Surya Saca Kusumah, Bupati Karawang yang diangkat oleh Republik Indonesia, Serikat (RIS) Sesuai dengan Undang-undang Nomor 14 tahun 1950 tentang pembentukan daerah Kabupaten di lingkungan Pemerintahan Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. Maka pada saat itu Kabupaten Karawang terpisah dari Kabupaten Purwakarta, Ibukota Kabupaten Karawang adalah di Karawang. Sedang Ibukota Purwakarta tetap di Kabupaten Subang. Dalam Sumber lain dikatakan bahwa menurut Keputusan Wali Negeri Pasundan nomor 12 tanggal 29 Januari 1949. Kabupaten Karawang dibagi   menjadi dua Bagian yaitu Kabupaten Karawang Barat dan Kabupaten Karawang Timur (Kabupaten Purwakarta) di Subang, Kabupaten Karawang Barat meliputi daerah kewedanan Karawang, Rengasengklok, Cikampek, Cikarang, Tambun, dan Sarengseng. Sedangkan Kabupaten Karawang Timur (Purwakarta) meliputi daerah kewedanan Subang, Ciasem, Pamanukan, Sagalaherang dan Kewedanan Purwakarta.

22.     RADEN RUBAYA (1950-1951)
Raden Rubaya putra Raden Suryanatamiharja, asal Sumedang, yang menjabat Wedana Leles, di Garut. Raden Rubaya memegang jabatan Bupati Karawang pada tahun 1950-1951.

Sumber : Sejarah Kabupaten Karawang - Prof.Dr. Nina Herlina Lubis dkk 2011

No comments:

Post a Comment